Mengenal Teori Kultivasi
HaloHai! Selamat datang kembali di KommasKita. Kali ini kit akan ngebahas teori klasik yang terakhir, yaitu Teori Kultivasi. Nggak terasa udah tiga teori dibahas, dan tibalah kita di Teori Klasik yang terakhir. Teori Kultivasi.
Tanpa berlama-lama lagi, selamat menikmati materi dari kami!!!
Pengertian
Teori Kultivasi
Teori kultivasi adalah
teori yang memandang hubungan antara terpaan media massa yaitu televisi
terhadap kepercayaan serta sikap dari audiens tentang dunia disekitarnya. Teori
ini memiliki hipotesis bahwa para pemirsa televisi kelas berat akan
mempertahankan keyakinan dan konsepsi dalam dirinya tentang dunia di sekitarnya
selaras dengan apa yang mereka lihat di televisi. Contohnya, seorang pemirsa
televisi kelas berat terus-menerus menonton film yang berbau seks bebas. Maka
ia akan memandang dunia di sekitarnya penuh dengan seks bebas.
Sejarah
Tahun 1950 hingga awal
tahun 1960, televisi mencapai puncak kejayaannya. Kemudian para ilmuwan
meneliti mengenai efek dari televisi. Seorang ilmuwan terkenal yang bernama
George Gerbner melakukan sebuah penelitian dengan menayangkan film-film
kekerasan diwaktu-waktu prime time. Ia memiliki tujuan untuk melihat perubahan
cara pandang para pemirsa. Para ilmuwan
berpendapat bahwa televisi memiliki efek jangka panjang yang berlangsung
sedikit demi sedikit, tidak langsung, namun signifikan. Hipotesis dasar teori kultivasi adalah menonton televisi secara
berlebihan dapat berdampak pada adanya kecenderungan untuk mempertahankan
konsepsi tentang realitas yang senada dengan gambaran yang disajikan oleh
media.
Asumsi
Gerbner mempunyai
pandangan bahwa media massa menanamkan nilai-nilai dengan satu arah, bukan dua
arah. Media mengelola dan mempropaganda nilai-nilai tersebut kedalam budaya lalu
menyajikannya kepada pemirsa termasuk juga penanaman perspektif politik.
Gerbner memiliki lima
asumsi dasar yaitu :
1. Televisi diproduksi
secara massal dan berperan penting dalam budaya Amerika, maka Televisi memiliki
pengaruh besar dibanding media massa yang lain.
2. Televisi tidak menyebabkan perilaku kekerasan, namun televisi berperan
dalam membentuk sikap dan kepercayaan tentang masyarakat dan orang lain.
3. Televisi menanamkan nilai-nilai serta sikap yang telah ada dalam budaya.
Televisi memberikan pelayanan untuk memperkuat status quo bukan
untuk melawannya.
4. Menonton televisi selama lebih dari empat jam sehari dapat
menyebabkan mean world syndrome.
5. Televisi tidak merefleksikan realitas namun menciptakan realitas
alternatif.
Kemudian Michael Morgan dan Nancy
Signorielli manyatakan bahwa berbagai pertanyaan yang disampaikan
kepada responden tidak secara khusus menyebut televisi, dan kepedulian
responden terhadap sumber informasi mereka terlihat tidak relevan. Dari
penelitian tersebut mempunyai hasil
a. Mainstreaming dan Resonance
Dalam analisis kultivasi, televisi memberikan
kontribusi terhadap penciptaan sebuah kerangka kerja budaya atau pengetahuan
dan meletakkan konsep-konsep umum. Kultivasi terjadi dalam dua cara,
yaitu mainstreaming dan resonance.
·
Mainstreaming –
terkait dengan pemirsa kelas berat, simbol-simbol televisi memonopoli dan
mendominasi sumber informasi lain dan ide tentang dunia.
·
Resonance – pemirsa melihat berbagai hal
melalui televisi yang hampir senada dengan realitas mereka dalam keseharian.
b. The Mean World Index
Gerbner dkk mengembangkan the Mean World Index yang
menemukan bahwa terpaan jangka panjang televisi dimana kekerasan berlangsung
mengakibatkan gambaran dunia yang menakutkan. Pemirsa yang mengkonsumsi
televisi pada tingkatan yang lebih tinggi percaya bahwa perlindungan yang lebih
baik oleh penegak hukum sangat diperlukan dan dilaporkan bahwa kebanyakan orang
tidak dapat dipercaya dan hanya memikirkan diri mereka sendiri.
The Mean World Index terdiri
atas tiga penyataan, yaitu :
·
Kebanyakan orang hanya melihat dirinya sendiri
·
Kita tidak bisa terlalu berhati-hati ketika
berhubungan dengan orang lain
·
Kebanyakan orang akan mengambil keuntungan dari diri
kita jika mereka mendapatkan kesempatan
Kritik teori kultivasi
Peneliti lainnya yang juga telah mengkritisi teori
kultivasi yang dikemukakan oleh Gerbner dan Gross, beberapa diantaranya adalah
sebagai berikut :
·
Horace Newcomb (1980) menyatakan bahwa
kategori dan jumlah hitungan kekerasan yang digunakan dalam studi analisis isi
program televisi tahunan tidak perlu merefleksikan apa yang dipersepsikan dan
apa yang diinterpretasikan oleh para pemirsa televisi.
·
Paul M. Hirsch (1981) mempertanyakan kaitan
antara menonton televisi dan suatu pandangan tentang dunia yang menakutkan
karena jika karakteristik tertentu dari khalayak diperhatikan maka kaitan
tersebut justru tidak ada.
·
A.N. Doob dan G.E. MacDonald (1979)
menyatakan bahwa tingkat kekerasan yang dilihat oleh pemirsa mungkin ada
kaitannya dengan kejahatan masyarakat yang terjadi di sekitar mereka.
·
R.P. Hawkins dan S.
Pingree (1982) menyatakan bahwa dalam suatu tinjauan tentang riset
yang terkait dengan konstruksi realitas sosial terungkap
bahwa menonton televisi hanyalah pengaruh awal televisi pada realitas sosial.
Terdapat beberapa kondisi yang turut mempengaruhi hal ini, diantaranya adalah
kapasitas memori, strategi pemusatan, keterampilan melibatkan diri dan berpikir,
struktur sosial seperti keluarga dan teman, serta adanya informasi tandingan
atau pelengkap dari pengalaman-pengalaman yang lain.
·
Jennings Bryant (2004) menyatakan bahwa
penelitian kultivasi lebih menekankan pada efek dibandingkan dengan siapa atau apa
yang dipengaruhi.


Komentar
Posting Komentar