Mengenal Teori Kritis Komunikasi Massa
Teori ini merupakan cabang dari pemikiran kritis Karl Marx
yang mencoba memperbarui dan merekonstruksi teori yang membebaskan manusia dari
manipulasi media modern.
Pemahaman mengenai teori kritik bersumber dari empat
pemikiran dari para ahli
1
.
Immanuel Kant
Immanuel Kant berpendapat bahwa kritik
sebagai kegiatan menguji suatu hal. Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa kritik
adalah hak setiap orang. Immanuel Kant berpendapat bahwa kritis adalah adalah
suatu kegiatan untuk menguji, yang artinya si kritikus adalah seorang penguji.
2.
Hegel
Hegel memandang bahwa kritik adalah bentuk
refleksi diri atas tekanan dan kontradiksi yang menghambat proses pembentukan
sejarah manusia. Oleh sebab itu, hal diatas harus direfleksikan dalam bentuk
kritikan.
3.
Karl Marx
Karl Marx berpendapat bahwa kesenjangan
antara masyarakat dan pemerntah lah yang
menyebabkan timbulnya pemikiran kritis yang menyebabkan munculnya kritik.
4.
Sigmun Freud
Kritik adalah refleksi atas konten psikis
yang memanipulasi kesadaran. Ia berpendapat bahwa kritik dipicu oleh konflik
psikis yang dialami seseorang.
Teori ini membentuk sebuah paradigma yang dinamakan
paradigma kritis. Adapun ciri-ciri paradigma kritis sbb:
1.
Realitas dalam pandangan kritis sering disebut
sebagai realitas semu, sebuah realitas yang menganggap bahwa kenyataan yang kita alami buka apa adanya. Ex: seseorang yang setiap hari bersentuhan dengan suatu barang, namun tidak dapat memilki barang tsb. Ex: buruh pabrik Nike.
2.
Salah satu tujuan paradigma kritis adalah untuk
memberikan kritik, karena dalam paradiga ini dunia dianggap tidak seimbang. Ex: laki-laki lebih mendominasi perempuan.
Penerapan dari teori ini bisa kita lihat di film pendek Charlie Caplin. Di film pendek tsb, Charlie Caplin digambarkan sebagai buruh pabrik yang tidak memiliki cukup waktu untuk istirahat. Digambarkan pula bahwa Chaplin seperti "diperalat" oleh suatu mesin produksi. Hal ini menunjukan bahwa kekuasaan hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki mesin produksi.
Untuk penerapan teori ini di Indonesia terlhat di pasca orde
baru. Dulu sat orde baru media massa peng-kritik pemerintah seolah-olah
dibantai dan dilarang terbit. Tapi di jaman now, media massa mempunyai peran
untuk mengkritisi kinerja pemerintah. Tapi dengan leluasanya media melakukan
kritik terhadap pemerintah, keadaan sekarang cederung berlebihan karena antara
media massa satu dengan yang lainna cenderung menjatuhkan sesamanya dan
menonojlkan tokoh tertentu. Di era sekarang juga terlihat bahwa semua orang
bisa berperan sebagai kritikus.
Padahal jika kita menilik lebih dalam lagi,
seorang kritikus adalah seorang yang benar-benar ahli dalam hal tsb. Keleluasaan media sebagai pengkritk pemerintah sangat
berpotensi untuk menyebabkan perpecahan. Karena kenyataany ada beberapa media
pro dan kontra pemerintah. Hal inilah yang membuat masyarakat merasa bahwa
media sekarang tidak netral dan bisa menjadi opsi untuk menyerang pemerintahan.



Komentar
Posting Komentar